Sabtu, Juni 20, 2009

Pernahkah?

border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349300333772118802" />


Pernahkah kau, sobat, merasa tidak nyaman?
aku pernah

saat janji-janji yang belum bisa terpenuhi, ditagih secepatnya,
saat amanah yang menggunung tinggi dipertanyakan pertanggungjawabannya "Hanya" oleh menusia.


Pernahkah kau merasa sedih, se sedih-sedihnya?
aku pernah, beberapa kali

saat tiada seorang yang mengerti keinginan hati
saat tiada yang mau mendengarkan penjelasan-penjelasan atas kesalahan-kesalahan
saat diri suatu masa butuh tempat curahan isi hati, namun tiada


Pernahkah kau merasa bosan, se bosan-bosannya?
aku pernah pula

saat aktifitas tiada dinamikanya
saat amalan hanya sekedar penunaian kewajiban, bukan kenikmatan
saat diri terjebak dalam kamar kemalasan


Pernahkah kau merasa hina, sehina-hinanya?
aku pernah, sobat, bahkan sering

saat berontakku terhadap keadaan dijawab dengan lautan nikmat
saat angkuhku terhadap karunia dibalas keabaian
saat lemahku terhadap yang bathil meneteskan beberapa hitam dihati


Pernahkah kau merasa iri se iri-irinya?
aku mungkin lebih sering dari pada dirimu

saat kutangkap sepotong wajah teduh nyaris kelihatan tanpa masalah
saat ku baca pengalaman seru sahabat yang berangkulan dengan Rasul
saat ku renung firman tentang Maryam yang dipilihNya untuk menjadi wanita tersuci dunia akhirat
saat kulihat sepasang merpati berdampingan saling menjaga, saling melengkapi
saat ku kecut senyum, menjumpai saudara-saudara seakidah yang istiqomah berjihad dijalanNya.

sobat.... ingin ku bagi segala kepernahan ini, ingin ku lebur satu persatu untuk ku selesaikan urusan dengan mereka, sanggupkah? aku mohon, doakan aku...

Selasa, Juni 16, 2009

The First Time I Saw Her...



Ndeh.... na suko na ncaliak urang jilbab gadang tu lah.., rina, berkomentar waktu pagi-pagi kami nangkring di teras kelas nungguin bel berbunyi. mata kami yang waktu itu berjumlah sekitar 10 biji langsung mengarah ke sosok yan kira-kira berada 15 meter di hadapan kami. makhluk berjilbab lebar itu.... bersambung

Selasa, Mei 26, 2009

Kudengarkan Suara Kaki-ku

hari itu, ketika semangat tetap menggebu untuk beraktivitas....walaupun puyeng toeng-toeng dikepala sudah gak karuan... tapi, The show must go on!!!! (whe he, itulah kalimat sakti yang selalu disuaraka ketika keraguan datang).
tapi.... Allah punya sejuta cara untuk menunjukkan bahwa kita lemah, ga ada apa-apanya, dan rencana Dia yang punya. sekali Kun ! jadilah dia. maka, pagi itu, adalah pagi yang bersejarah, anggota keluarga tubuhku yang benama kaki, yang biasanya diperhatikan _itupun ga sepenuhnya_ saat wudhu, make kaos kaki, tiba-tiba minta perhatian lebih. harunya, dia mengorbankan dirinya untuk terluka demi mendapatkan perhatianku. dia menjalin kerjasama yang baik dengan tangan kiri ini, supaya menumpahkan air panas ke punggungnya,
aku merintih...
menangis...
mengalah...
tidur saja tak berdaya.. kuliah cancel. ngajar absen. kerjaan rumah cuti.
tiba-tiba saat merintih kudengar suara :
"Mi, sakit ya? maaf, aku juga gi berjuang nih, supaya sakitnya cepat berakhir..."
"aku yang paling sakit ni Mi..."
mo gimana lagi, ente ngelayap mulu.."
si perut n kepala dah protes dari kemaren ga di tanggap.."
"terpaksa deh aku turun tangan, eh turun kaki maksudku.."
"sakitnya banget, tapi aku senang aku lebih dimanja, di liat2..., bahkan orang2 datang cuma untuk liat aku..."
aku terenyuh lesu...
oke, teruskan perjuanganmu mengatasi sakit ini, aku bantu doa, maapin ya belakangan sering zalim sama kamu dan teman-teman...

Kamis, April 02, 2009

Sebuah Makna tentang Lugu

Ketika aku kecil, kisaran umur 5 tahun, dalam artian aku sudah bisa memahami cukup serius apa yang dikatakan oleh orang-orang sekitarku, ada sebuah rutinitas. yaitu membaca alfatihah setiap aku melewati makam almarhum ayah, yang kebetulan berada dipinggir jalan kami ketika menuju rumah,apabila pergi atau pulang bepergian. begitu terus ibu menyuruh kami, tiga bersaudara, pun setiap selesai shalat atau teringat ayah, ibu terus menyuruh kami berdoa, atau minimal membacakan al Fatihah. rutinitas itu sudah mendarah daging, bahkan sampai saat ini. ibu selalu bilang, setiap kita,-ibu, aku dan saudara2ku- mengucapkan al Fatihah, akan menambah satu lampu untuk menerangi alam kubur ayah. pikiranku waktu itu....hebat sekali, hanya dengan al Fatihah kubur ayah terang, lalu terbayang lah di imajinasiku, setiap ku selesai membaca amin, nyala lah satu lampu di langit-langit kuburan ayah, dan kuburan ayah jadi benderang seperti ruang tamu di rumah, dan tampak pula dalam imajinasiku ayah tidur nyenyak dengan pasokan cahaya yang cukup.
imajinasi ini lambat laun berkembang, aku jadi berpikir, bahwa lampu yang di aliri listrik harus di bayar tagihannya tiap bulan, berarti lampu kubur ayah harus tetap diperbarui dengan sering-sering membacakan alfatihah buat beliau. aku jadi semakin rajin dan tergambar lagi betapa bertaburannya lampu di langit-langit kubur itu.
sekarang, aku sudah menginjak usia 22 tahun. dewasa. rutinitas mendoakan ayah tetap berlanjut, namun imajinasi konyol itu tentu lama-lama terkikis, karena selama rentang waktu sekolah, pemahaman tentang kubur, otomatis sudah diluruskan. aku berpikir, betapa lugunya masa kecil, betapa alaminya pemikiran ini, dan betapa semangat dan tulusnya aku waktu itu yang ingin ayah senantiasa tidur nyenyak.

Rabu, Maret 04, 2009

Pak Edi : Korbankan kenikmatan hari ini untuk nikmat esok hari


"perjalanan yang tetap berlanjut"

Pak Edi nampaknya sengaja untuk menyiapkan stimulus-stimulus buat kami, semester akhir AS, di pertemuan perdana paska magang. tau diri sih, akhir semester berarti penyelesaian, yang berarti skripsi. kata "wanti-wanti" sering ku dengar dari mulut beliau, karena stressingnya tidak hanya terhadap skripsi, namun lebih jauh,, lebih menantang (atau menakutkan?)dari itu. yaitu, sebuah pertanyaan klasik yang membuat tertohok orang-orang sekaliber aku : "Mau kemana saudara setelah wisuda?"

huh,, pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban yang tidak sederhana. kabur, itu yang muncul dikepalaku. namun tak dapat kupungkiri, punya sih beberapa hal yang akan dikemukakan, namun, sekali lagi, keoptimisan itu masih sulit untuk kupertahankan tetap bersemayam dalam langkah ini.

setelah hampir 4 tahun berdiam dikomunitas syariah, aku masih belum bisa melacak dimana posisiku didalamnya, apa peranku dalam keluarga ini,,. aku takut, setelah mengetahui bahwa ternyata aku hanya sekedar pemain figuran, atau tak lebih dari sekedar pemenuh kuota. aku masih mencari diriku.... belum kutemukan diriku...

However, ga ada kata terlambat sebelum nyawa ini hilang. atau paling tidak Better late than never. akhir taujihatnya, pak Edi menjadikan semester ini adalah semester penuh semangat untuk kami,, era perjuangan, tidak ada kata istirahat, karena istirahatnta orang mukmin itu sejatinya hanya di surga,,,

Allahul Muwaffiq,,,